Status Penelitian Purwoceng

Purwoceng merupakan tanaman herba komersial yang akarnya dilaporkan berkhasiat obat sebagai afrodisiak (meningkatkan gairah seksual dan menimbulkan ereksi), diuretik (melancarkan saluran air seni), dan tonik (mampu meningkatkan stamina tubuh) (Gambar 1). Tanaman tersebut merupakan tanaman asli Indonesia yang hidup secara endemik di daerah pegunungan seperti dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, Gunung Pangrango di Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur. Dewasa ini populasi purwoceng sudah langka karena mengalami erosi genetik secara besar-besaran, bahkan populasinya di Gunung Pangrango Jawa Barat dan area pegunungan di Jawa Timur dilaporkan sudah musnah. Rahardjo (2003) dan Syahid et al. (2004) melaporkan bahwa saat ini tanaman tersebut hanya terdapat di dataran tinggi Dieng, bukan di habitat aslinya melainkan di areal budi daya yang sangat sempit di Desa Sekunan

Berdasarkan status erosi genetiknya, tanaman purwoceng dapat dikelompokkan ke dalam kategori genting (endangered) atau hampir punah (Rivai et al. 1992). Kegentingan tersebut terutama disebabkan oleh tindakan eksploitasi yang berlebihan tanpa diimbangi oleh upaya konservasi. Sebagian besar perusahaan obat tradisional (jamu) mengambil atau memanen bahan tanaman purwoceng secara langsung dari habitatnya tanpa usaha peremajaan. Mengingat bahan utama tanaman yang dipanen adalah akarnya, maka tindakan pemanenan secara otomatis merusak tanaman secara keseluruhan.

Menurut Rahardjo (2003), kegentingan tersebut juga disebabkan oleh rusaknya hutan konservasi yang menjadi habitat asli purwoceng. Selain itu, kegentingan juga disebabkan oleh langkanya budi daya purwoceng di tingkat petani karena adanya pencurian yang terkait dengan mahalnya komoditas tersebut. Kendala lain adalah mahalnya harga bibit yang dapat mencapai Rp 4.000-Rp 10.000 per batang, bahkan harga benih dapat mencapai jutaan rupiah setiap ons. Untuk tetap memelihara kelestarian tanaman purwoceng maka pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan mengeluarkan edaran kepada industri jamu untuk tidak menggunakan bahan tanaman tersebut, kecuali dari sumber budi daya

Mengingat tingkat erosi genetik yang sangat besar maka upaya konservasi purwoceng mutlak diperlukan. Selain regulasi, upaya konservasi lain juga perlu diterapkan. Upaya konservasi tersebut sebaiknya diiringi dengan berbagai upaya pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan karena prospek pengembangannya yang sangat cerah.

pek pengembangannya yang sangat cerah. Konservasi dapat dilakukan secara in situ (dalam habitatnya) atau ex situ (luar habitat, baik di lapang maupun laboratorium sebagai kultur in vitro). Untuk menunjang upaya konservasi dan pemanfaatannya diperlukan berbagai informasi yang lengkap dan penguasaan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian dari berbagai aspek keilmuan. Lengkapnya informasi dan mantapnya teknologi akan sangat membantu pengembangan komoditas purwoceng, terutama untuk skala industri.

Hingga saat ini tidak banyak dijumpai laporan penelitian purwoceng. Penelitian umumnya terbatas pada aspek budi daya, kultur in vitro (untuk perbanyakan dan konservasi), fitokimia, dan farmakologi.

Penelitian Budi Daya

Sudah diketahui purwoceng dapat dibudidayakan di luar habitatnya. Rahardjo (2003) melaporkan budi daya purwoceng tidak sulit. Pendapat yang mengatakan bahwa biji purwoceng tidak dapat tumbuh di luar habitatnya sengaja dibangun untuk keperluan monopoli para petani di Desa Sekunang. Untuk mengklarifikasi pendapat tersebut Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo melakukan penelitian yang dimulai pada tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman purwoceng dapat tumbuh di luar habitatnya walaupun tidak seoptimal di habitat senGambar 1. Tahapan pertumbuhan tanaman purwoceng. a = tanaman, b = bunga kuncup, c = bunga mekar, d = buah, dan e = akar dari tanaman berumur 6 bulan. a b c d e Buletin Plasma Nutfah Vol.12 No.1 Th.2006 11 diri. Di Kebun Percobaan Balittro di Gunung Putri Kabupaten Cianjur pada ketinggian 1.400 m dpl, tanaman mampu menghasilkan bunga dan biji, sedangkan di daerah dengan ketinggian 600-800 m dpl, tanaman hanya mampu tumbuh selama 3 bulan. Pembibitan dilakukan dengan memindahkan kecambah yang tumbuh dari biji-biji yang jatuh ke tanah (umur 2-3 bulan) secara langsung ke lahan budi daya atau ke polybag terlebih dahulu. Pupuk organik diaplikasikan sebelum tanam sebagai pupuk dasar dan pupuk buatan diberikan sebagai pupuk susulan. Pupuk organik berupa pupuk kotoran ayam atau kotoran sapi dengan takaran 20 t/ha, diberikan 2 minggu sebelum tanam. Pupuk urea, SP36, dan KCl berturut-turut diberikan dengan takaran 200, 100, dan 200 kg/ha. Urea diberikan dua kali, setengah takaran pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam (BST) dan setengahnya lagi pada umur 6 BST. Umur panen optimal adalah pada saat tanaman telah berumur sekitar satu tahun (Rahardjo 2003). Penelitian ini perlu dikembangkan di daerahdaerah yang mempunyai kondisi agroklimat yang mirip dengan Desa Sekunang sehingga diperoleh hasil optimal.

Dilaporkan bahwa usahatani purwoceng dinilai fisibel dan menguntungkan. Menurut Yuhono (2004), penerapan teknologi budi daya purwoceng secara sederhana untuk luasan 1.000 m 2 dapat memberikan pendapatan sebesar Rp 34.000.000. Analisis usahatani juga perlu diterapkan di daerah lain yang kemungkinan dapat dijadikan sebagai sentra produksi purwoceng.

TERMS AND CONDITIONS | PRIVACY POLICY | CONTACT US 2011 Jamu Jago and Purwoceng. All rights reserved. Web design is another creative STRIKE! by katapel and developed by vantage it